Satu Pelukan yang Tak Pernah Hilang
Mini Novel Kisah Rumah Tangga Edy & Ade
* Perkenalan yang Tak Direncanakan
Di sebuah kota kecil, saat dunia sedang sibuk memakai masker dan menjaga jarak, dua hati justru dipertemukan oleh takdir lewat tangan seorang tukang pangkas bernama Budi.
“Kenalin, Ed. Ini temen kerja istri aku,” kata Budi sambil tersenyum.
Namanya Ade. Usianya lebih matang, lebih dewasa. Tapi senyumnya… menenangkan.
Saat semua orang takut keluar rumah karena COVID-19, Edy dan Ade justru memberanikan diri untuk melangkah bersama ke pelaminan. Di usia 27 dan 30, mereka menikah. Tanpa pesta mewah. Hanya doa yang mengudara dalam sunyi.
* Ujian dari Langit
Belum genap setahun menikah, badai datang. Edy divonis penyakit kronis yang menurut dokter tidak bisa disembuhkan. Dunia rasanya runtuh.
Lalu datang tekanan dari keluarga istri:
“Ceraikan saja dia… hidupmu masih panjang.”
Tapi Ade hanya menatap Edy dengan mata berkaca 😢
“Aku menikah bukan hanya untuk hari senang. Tapi untuk semua musim. Termasuk musim sakitmu.”
Seakan belum cukup, rahim Ade pun didiagnosis miom. Dokter berkata kemungkinan punya anak sangat kecil. Tapi mereka tak menyerah. Mereka saling menguatkan dalam diam, dalam peluk yang menggetarkan doa.
* Hadiah dari Allah
Allah memang sering menyimpan kejutan di balik luka.
Meski katanya mustahil, Ade mengandung. Bukan satu, tapi dua kali. Lahir lah Gafi dan Syifa—dua bintang kecil yang membuat rumah tangga itu kembali terang.
Tangis pertama anak mereka adalah jawaban dari semua air mata dan kesabaran.
Edy dan Ade tahu, ini bukan keajaiban biasa. Ini adalah tanda bahwa mereka dicintai Allah, karena mereka tidak pernah menyerah.
* Jarak dan Janji
Kini Edy harus merantau, jauh dari istri dan anak-anaknya. Setiap malam, ia menatap foto Gafi dan Syifa di layar HP, sambil menahan rindu yang mencubit dada. Ade di rumah, tetap setia menunggu. Mengurus anak-anak, menahan letih, menahan sepi.
Tapi mereka tahu satu hal:
“Semua jarak akan dibayar oleh waktu berkumpul nanti.”
Karena mereka tidak tinggal bersama, tapi tinggal di hati masing-masing.
*Harapan Seorang Ayah
Edy tidak ingin banyak. Hanya ingin sehat. Ingin Ade sehat. Ingin melihat Gafi dan Syifa tumbuh besar, sekolah tinggi, sukses, dan tahu bahwa cinta itu bukan selalu tentang pelukan—kadang cinta adalah bertahan diam-diam sambil terus mendoakan.
Dan Edy percaya… meski rumah mereka biasa, meski hidup tidak selalu indah, rumah tangganya cukup.
Cukup kuat. Cukup hangat. Cukup bahagia.
Komentar
Posting Komentar